Novel The Punk: Romeo and Juliet with Safety Pins

5 September 2020 · 1 min readKategori Blog
Novel The Punk

Novel The Punk: Romeo and Juliet with Safety Pins – Secara urutan, sepertinya penulis sedang ‘panas’. Terlihat jelas dari jalan cerita nya yang berisi konflik dari awal sampai akhir. Bisa dibilang novel ini biasa aja, kalau tujuan dari awal hanya sekadar baca. Lain cerita kalau kita lihat dari sudut pandang yang agak luas.

Punk sering dianggap remeh oleh orang-orang yang cuma memandang seseorang menggunakan kacamata kuda. Umumnya, Punk seringkali dinilai hanya dari penampilannya. Memang benar kalau secara penampilan, mereka ini jauh dari kata ‘normal’. Bahkan di setiap event atau konser, mereka sering (secara tidak langsung) berlomba-lomba tentang penampilan siapa yang lebih ‘aneh’. Tapi tentu hal tersebut tidak menjadikan kita bisa menilai seseorang hanya dari penampilannya.

Novel The Punk: Romeo and Juliet with Safety Pins

Seringnya terjadi penilaian buruk pada kehidupan Punk merupakan realita yang salah tafsir. Dalam novel ini, penulis memberikan sebuah hal yang jarang kita lihat dari mereka yang memilih jalan hidup sebagai Punk: Romantisme. Romantis bisa dibilang salah satu sifat universal manusia, yang artinya semua orang punya sisi romantis, yang mereka lakukan dengan cara mereka masing masing. Sama halnya dengan anak Punk.

Dalam novel The Punk, Gideon Sams menunjukkan bahwa kehidupan Punk tidak selamanya penuh dengan keburukan. Anak Punk juga mempunyai sisi romantis yang mereka terapkan entah kepada saudara, teman atau bahkan kekasih.

Bagi tokoh utama pada novel ini, Adolph Sphitz, seorang kekasih bisa dijadikan salah satu alasan untuk bertahan hidup. Sesuai dengan covernya, novel ini adalah kisah tentang Romeo and Juliet with Safety Pins. Sepasang kekasih yang menikmati sisi romantis dengan cara yang berbeda; menindik kuping dan hidung, mabuk, bercinta, sampai pertikaian yang mengakibatkan keduanya tewas terbunuh.

Dari novel ini saya menangkap bahwa rasa sayang seseorang tidak bisa dianggap main-main. Jauh dari pemikiran ingin menunjukkan kekuatan kepada orang lain. Kisah mereka menunjukkan bahwa ada keinginan untuk melindungi orang yang disayang ketika menerima perlakuan tidak pantas dari orang lain.

Jika kita bisa menahan diri agar tidak menilai seseorang terlalu cepat, kita akan sadar bahwa untuk melihat seseorang atau kelompok tidak cukup hanya dari sisi luarnya saja.


The Punk adalah novel Punk pertama di dunia. Ditulis oleh Gideon Sams sebagai sebuah kontribusi penting bagi literatur Punk. Versi bahasa Indonesia dari novel ini dapat dibeli di Berdikari Book.

Cheers, I am Abay and I make things for fun. Gudang Garam and Coffee i can't live without. I love turning exciting ideas into horrible code. And .. i'm a lil' boy currently living Indonesia.
[email protected]

Berikan Komentar